Diskusi yang sangat berharga

Siang terik membakar kulitku. Ingin rasanya berteduh sambil meneguk es jeruk yang dijual di pinggiran jalan. Uang jajan sudah aku belikan bakso malang tadi. Kerongkongan ku berteriak "beli, otak bilang padanya beli es". Lagi-lagi aku hanya bisa menatap es jeruk di pinggiran jalan itu sambil terus mengayuh pelan sepedaku. 

Alhasil aku harus berhenti di warung dan membeli es lilin seharga lima ratusan. Jika tidak, pingsan sudah aku dijalan. Mungkin, ini cukup untuk mengurangi dahaga. 

Kubuang plastik bekas es lilin itu di samping warung. Tetiba, aku dimarahi mak mak yang sok benar berumur 30 tahunan. 

"Heh, kalo buang sampah jangan disini bau tahu!" Teriak Mak mak itu. Apa salahku? Aku sudah buang ditempat sampah. Apa aku perlu membuang nya ke Antartika? Tidak perlu ke Antartika, ke belakang rumah saja beres. Tapi, ya kali, aku harus mengantongi sampah itu sampai rumah yang jaraknya 500 meter dari sini.

"Loh, ini kan tempat sampah Bu? Memangnya tidak boleh ya Bu?" Tanyaku masih sopan plus santun. Gimana bisa sih, Mak-mak itu melarangku? Apa dia mau cari bahan gosip? Munculah judul FTV baru setelah ini. 

"Ya emang sih, tempat sampah, tapi, alangkah baiknya kamu bawa ke depan rumah saya aja, biar saya daur ulang" kata Mak-mak itu dengan gayanya. 

"Oh, gitu, jadi harus di buang di depan rumah Ibu nih? Yah, saya kan engga tahu rumahnya Bu" ucapku sambil mengambil sampah itu hati-hati. 

Si pemilik warung tertawa melihatku mengambil sampah yang sudah kubuang ditempat sampah. 

Hadeuh, makin malu aja. 

"Ya sudah kamu buang saja disitu gih, nanti biar saya buang di sungai" Mak-mak berbaju daster batik ikat itu tertawa gaya feminin. 

Dengan cepat aku membelalakkan mata. 

"Bagaimana sih Bu? Tadi mau di daur ulang sekarang suruh buang di sungai, kalaupun saya  buang di sungai engga bakal aku buang deh, kasian sungai. Jangan sekali-kali kita menghiasi sungai dengan sampah, buanglah sampah pada tempatnya" aku yang sok quotes membuang sampah itu ketempat sampah semula. Maapin pah (sampah) bolak balik stasiun. 

"Ahahaha, kalau gitu ikut saya hias sungai yuk" Mak mak itu bikin aku pusing. Gimana sih maksudnya? Btw, belanja belum kelar aja udah ngomentari orang. Gini gini ujungnya nraktir, boleh aja, nah ini ga tau. 

"Loh Bu? Kok saya bingung sih?" Aku menggaruk-garuk kepala ku. Maklum, rupanya belum keramas 1 Minggu. 

"Lah, kamu bikin saya lapar. Dimana yang jual bakpau ya?" Mak-mak itu meninggalkan warung dengan santai, tak merasa bahwa ia telah membuatku bingung. 

"Kenapa sih? Kok aku makin merasa aneh" kataku pelan. 

Pemilik warung kemudian berkata, "Dia itu orang gila, tapi, badan nya bersih dan terlihat seperti orang waras karena keluarganya mengurus" 

Nyaris saja aku kesambar malu, engga nyaris lagi tapi udah malu banget. 

Kita diskusi sama orang gila? Dan engga tahu kalau yang kita bincangkan itu engga nyambung. 

Pastilah kita malu, apa lagi dilihat sama pemilik warung. Bakal jadi bahan gosip nih. 

Esok pulang sekolah, aku tak melewati jalan yang sama. Takut kena tawaan orang sekitar. Gimana jadinya? 

Kalau diketawain terus kita nangis dan dikasih es itu kan anak kecil. 

Ku naiki sepeda ku dengan cepat usai membayar, dan ku kayuh diatas kecepatan rata-rata. 

"Gimana bisa aku ngomong sama orang gila" 

Lain kali aku harus diam jika ditanyai orang yang tak dikenal, kecuali kalau pertanyaan nya masuk akal. 

*** 

Jangan lupa nantikan cerita selanjutnya hanya di blog ini! 
Komen untuk request cerita, atau kritik juga saran :) jangan lupa klik ikuti biar aku makin rajin dan update cerita lainnya 

Good or not story depends on the readers !

Thanks for read! 






Komentar